
Salah satu favourite gue adalah Lance Amstrong seorang pembalap sepeda hebat di dunia.
Yang menarik dari Lance Amstrong ini adalah bahwa dia adalah seorang yang divonis kanker testis dan sudah menyebar ke sebagian besar organ tubuhnya bahkan ke otak nya.
BAGI sebagian besar orang, kanker berarti vonis berakhirnya harapan hidup. Namun bagi pembalap sepeda asal Amerika Serikat (AS), Lance Armstrong (29) kanker berarti dimulainya perjuangan. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh penderita kanker di dunia serta keluarganya.
Upaya itu dibuktikan Armstrong yang membawa bendera klub US Postal dengan menjuarai lomba balap sepeda paling bergengsi di muka bumi, Tour de France 2000 yang berakhir Minggu (23/7) di Champs Elysees, Paris, Perancis. Armstrong mengukuhkan diri sebagai juara sejati sekaligus mengulangi prestasinya tahun lalu di lomba yang sama.
Armstrong menyelesaikan etape ke-21 berjarak 138 km yang mengambil start di Menara Eiffel itu di urutan ke-76. Secara keseluruhan, catatan waktunya 92 jam dan 33 menit, 08 detik. Ayah seorang putra bernama Luke David Armstrong (10 bulan) itu kini difavoritkan meraih emas Olimpiade Sydney 2000.
Padahal pembalap sepeda kelahiran Plano, Texas, 18 September 1971 itu, baru kembali ke arena balap setelah 12 bulan lalu berjuang melawan kanker testis yang menyerangnya. Kanker tersebut biasa menyerang pria berusia
15-35 tahun. Jika terdeteksi sejak dini, tingkat harapan penyembuhannya mencapai 70 persen.
Akan tetapi, Armstrong yang mengetahui dirinya mengidap kanker tersebut sejak Oktober 1996 lalu malah tidak peduli. Merasa masih muda dan kuat, dia mengabaikan sakitnya dan tak pernah membayangkan kanker akan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Betul saja, tanpa pengobatan yang semestinya kanker itu dengan cepat menyebar ke perutnya lalu ke paru-paru bahkan ke otaknya. Peluangnya untuk sembuh meredup, tinggal 50 persen. Pria yang pada usia 25 tahun termasuk pembalap sepeda terbaik di dunia itu harus menjalani operasi untuk memperpanjang umurnya.
Mulanya, dia gentar menghadapi operasi dan serangkaian pengobatan yang harus ditempuh. Namun, berkat dorongan ibunya, Linda dan keluarga serta semua teman-temannya, Armstrong berani memproklamirkan dirinya bukanlah korban kanker tetapi orang yang berhasil mengalahkan kanker.
Kemudian Armstrong giat mempelajari penyakitnya dan upaya penyembuhan yang selayaknya dilakukan. Berbekal pengetahuan dan ilmu pengobatan yang diketahuinya, Armstrong memulai pertempurannya melawan kanker.
Sebelum itu, bahkan sebelum mengetahui nasibnya kelak, Armstrong mendirikan Lance Armstrong Foundation (LAF). Misi lembaga nirlaba itu adalah membantu orang-orang menangani kanker sehingga dapat mengalahkan penyakit itu.
Tujuan utamanya adalah mengubah dan memperbaiki dunia bagi para penderita kanker dan semua orang yang mereka sayangi. Lembaga itu juga ingin mengurangi ancaman kanker di bumi, melayani para penderita dan menyebarkan harapan kepada pasien, keluarga, dan mereka yang menderita akibat penyakit itu.
Armstrong rupanya benar-benar terlahir sebagai pembalap sepeda. Demi olahraga kecintaannya itu dia berani menomorduakan sekolah. Kerja kerasnya mengantarkan Armstrong terpilih masuk tim yunior Olimpiade Barcelona 1992 dan menjalani training camp di Colorado.
Musim panas tahun 1989, Armstrong tampil sebagai juara dunia yunior. Dua tahun berikutnya, Armstrong mengukuhkan diri sebagai juara nasional pada United States National Amateur Championship. Di Barcelona, Armstrong finis di urutan ke-14.
Kejuaraan profesional pertama setelah Barcelona adalah Classico San Sebastian 1992. Di situ Armstrong mengenal kerasnya dunia balap sepeda. Meski di yunior dan amatir dia sudah punya nama, begitu di profesional dia hanya mampu menyentuh finis di urutan paling akhir atau 27 menit di belakang sang juara.
Hampir saja kariernya berhenti di situ, tetapi sekali lagi ibunya membesarkan hati Armstrong. Dukungan ibundanya itu mengajarkan Armstrong bahwa lomba bukan hanya berarti menyelesaikan perlombaan tetapi juga bertahan di sirkuit dan segera bangkit manakala terpuruk.
Tahun 1993, Armstrong tampil lebih baik dan menyabet gelar juara dunia, juara US Pro Champion, dan mulai melangkah ke lomba paling prestisius Tour de France. Dia membawa timnya, Motorola meraih peringkat kelima dunia.
Sejak itu, Armstrong menghabiskan delapan bulan waktunya di berbagai sirkuit balap sepeda profesional di Eropa. Namanya mulai berkibar di daratan Eropa. Jika off season, Armstrong kembali ke Austin, Texas, bercengkerama bersama teman-temannya.
Tampaknya Armstrong akan mudah meraih gelar pembalap nomor satu dunia. Dia juara lagi di Tour Du Pont, Fleche Wallone di Belgia, terpilih masuk tim Olimpiade Atlanta, menandatangani kontrak dua tahun dengan Tim Fench Cofidis dan pindah ke rumah keren bergaya Mediteranian di Austin yang dinamai Casa Linda, untuk menghormati ibunya.
Namun, tiba-tiba pria berjuluk The Golden Boy of American Cycling itu menghadapi kenyataan dirinya mengidap kanker testis. Prioritas hidupnya berubah, kesehatan kini harus didahulukan. Meski demikian, Armstrong menganggap derita itu kesempatan mensyukuri dan menghargai kesehatan. Kesempatan mencintai keluarga dan teman-reman dekatnya.
MEI 1998, Armstrong merayakan kesembuhannya dan berlaga kembali. Dia menjuarai Sprint 56K Criterium di Austin. Pada bulan itu juga, tepatnya
8 Mei, Armstrong menikahi Kristin Richard di Austin diikuti dengan resepsi di Santa Barbara, California.
Armstrong kembali bergabung dengan tim US Postal Service Pro Cycling. Kepercayaan itu dibalasnya dengan serangkaian kemenangan di Tour de Luxembourg (Juni 1998), Rheinland-Pfalz Rundfarht di Jerman dan Cascade Classic di Oregon (Juli 1998). Dia masuk finis keempat di Kejuaraan Dunia Belanda dan salah satu lomba paling bergengsi, Tour of Spain (September 1998).
"Ironis, dulu saya naik sepeda untuk hidup. Namun, kini saya ingin hidup supaya bisa naik sepeda," ujar Armstrong dalam buku biografinya, It's not about the Bike.
Sekarang Armstrong yang berpenghasilan lima-tujuh juta dollar AS itu pantas disejajarkan dengan mega bintang Michael Jordan (basket) atau Tiger Wood (golf). Namun, Armstrong tetaplah pria bersahaja dan low profile. "Saya bukan superstar, saya orang biasa," ujarnya seraya tertawa
Kita harus berusaha dan jangan mudah putus asa.
Kitalah yang menentukan diri kita sendiri menajdi seorang " pemenang " atau seorang " pecundang"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar