Wuah..
Berasa sekali ngak ada pembantu kemarin ini.
Gue rasa bukan hanya gue aja nich yang merasakan ditinggal pembantu mudik dan yang parahnya tidak balik lagi.
Kebayang donk bolak balik dan hebohnya nyari pembantu yang bisa buat ngasuh anak. Gue mau ambil Baby Sitter ,kayanya ngak afdol karena ada rencana mau resign dari kantor.
Soalnya Bs ngak mau pegang kerjaan rumah.
"Kenapa harus resign. Masa jagoan kantor KO karena pembantu?"
Itu pertanyaan salah satu best friend gue di kantor.
Hmm..
Ternyata setelah gue pikirkan jawabannya dan gue renungin.
Akhirnya gue dapet juga ilham dari pengalaman 2 hari sebelumnya.
Ceritanya hari ini, hari Rabu setelah ngubek-ngubek daerah Cempaka putih dsb dari siang ampe sore gue ketemu juga satu pembantu.
Tetapi tidak pengalaman jaga anak, hanya kerjaan rumah tanggak menurut yang gue lihat sich Ok lah. Not Bad!
Tapi..karena sudah hampir 2 minggu bersama anak gue yang super lucu dan menggemaskan.( ya iyalah.namanya juga anak sendiri..:P), yang namanya naluri ibu dan rasa kuatir itu muncul.
Bagaimana nanti dia makan, dia tidur ,dia main.
Sedangkan pembantu gue kayanya masih kurang bisa gue percaya.
Percaya ngak percaya tadi waktu dia mau tidur malam, gue sempet nangis dan anak gue sepertinya merasakan kekuatiran gue.
Mau tidur aja dia gelisah bolak-balik kesana sini dulu.
Akhirnya gue tenangin diri dan berusaha 'galak' biar dia bisa tidur soalnya udah mulai bersin-bersin anak gue karena kurang tidur di siang harinya.
Gue jadi inget ketika gue belum menikah dulu.
Gue selalu ingin kerja dan menganggap walau punya anak ,tetap saja harus kerja karena gue pengen seperti orang lain.
Calon suami gue yang sekarang jadi bapaknya anak gue ngotot tidak boleh dan akhirnya gue stopin aja pembicaraan yang menurut gue konyol waktu itu.
Masa jaman emansipasi gini istri harus di dapur melulu. Buat apa nyokap sekolahin gue ampe jadi sarjana kalo cuma masak di dapur aja?
Itu pemikiran mungkin 4 tahun yang lalu.
Setahun kemudian, pemikiran masih sama.
Pemikiran mulai berubah ketika lahirlah anak walau tidak drastis karena masih butuh banyak banget biaya untuk keperluan macam-macam.
Setelah anak 1 tahun, berubah lagi 50%. Setelah anak umur 2 tahun, pemikiran berubah 85%.
Setelah pembantu ngak balik karena kawin alasannya, pemikiran berubah 95%.
Berubah bahwa ternyata gue lebih baik di rumah jaga anak dan mendidik anak lebih baik.
Busyet dah....
Pilihan yang sangat sulit sebenarnya buat gue meninggalkan kantor dan teman-teman yang begitu gue sayangi. Apalagi di kantor gue termasuk salah satu dari sekian banyak ' pembuat keributan'. :D
Bos-bos yang kadang menjengkelkan,dan kadang juga menyenangkan. Apalagi gue kerja bukan hanya baru 1 atau 2 tahun.
Gue bekerja cukup lama untuk seumuran gue . Udah hampir 8 tahun. Gue pertama kali kerja part time di kantor konsultan Juli 2000.
Dan yang menarik dari pekerjaan ini adalah gue mendapatkan pekerjaan dengan cara 'door to door' menawarkan diri gue hanya dengan modal ijazah SMA dan omongan sekarang lagi kuliah semester 3 di salah satu universitas di Jakarta.
Setiap kantor di jl. Bandengan gue masukin dan diterima langsung di kantor ke-4 dan gue sempet kerja selama 4 tahun.
Bos gue baik banget dan sangat pengertian.
Sekarang umur gue 26 tahun berarti dari umur 18 tahun sudah kerja. Disaat orang lain menikmati indahnya kuliah dan bergaul, gue sudah punya banyak kesibukan.
Bagi gue sangat sulit meninggalakn kantor. Tetapi Hidup adalah pilihan bukan.
Gue inget kata-kata temen gue namanya Tasmika. Begini nich katanya
" Mana mungkin dia bisa diam. Lihat aja setiap hari dia sibuk melulu. Mana mungkin dia betah di rumah ngak apa-apain." he he he
Sekarang ini, gue pikir gue harus mulai memegang anak gue dan merawat anak gue.
Untuk masalah mencari uang, biarlah urusan suami aja dech.
Ngak munafiklah,pasti gue akan kehilangan pemasukan yang lumayan buat gue sendiri.
Apalagi apa-apa sekrang mahal buanget..........
Tapi, biarlah suami jadi lebih bertanggung jawab dan lebih termotivasi mencari nafkah karena istrinya sudah tidak bekerja. He He He. Cia yo,Papa.
Selama 2 tahun ini gue kehilangan moment selama anak gue mulai bisa sesuatu.Ketika anak gue pertama kali merangkak, duduk,bicara dengan bahasa planetnya. Yang lebih tahu adalah pengasuhnya , bukan orang tuanya.
Yach.. itu lah konsekuensinya bukan sebagai ibu dan wanita karir ?? :P
Gue punya inisiatif sendiri untuk berhenti kerja karena pada dasarnya gue ingin mendidik anak gue sendiri sesuai dengan 'gaya 'gue.
Gue pernah ingin menitip ke mama gue,tapi setelah gue lihat kok beda yach polah asuhnya. Bukan sok hebat nich gue, tapi yah namanya anak sendiri, kita pengen mendidik agar bisa menjadi yang 'terbaik'.
Anak gue lucu sekali dan mulai bisa mengenal huruf. Gerakannya lincah setiap hari dan ada aja kelakuannya yang menggemaskan.
Mulai dari ngambek, dari nyanyi dengan lirik yang diciptakan sendiri, pura-pura jadi guru.
Wuah..membayangkannya aja males banget jadinya masuk kerja lagi. Kalo bisa pengen resign aja sekarang juga dech. Biar hati tidak kuatir lagi mengenai apa yang akan terjadi jika gue ngak ada di rumah.
Kalo ada lagu dengan lirik 'kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. '
Gue setuju habis. Setelah jadi orang tua khusunya menjadi ibu, sangat mengena sekali syair lagu tersebut.
Ngak terhitung banyak air mata yang keluar untuk anak kita.
Waktu dia sakit, kejepit tangannya, tidur, bisa jalan, bisa manggil mama dan papa dan ketika menjadi penghibur kalo kita susah.
Tahu-tahu anak yang kita kandung selama 9 bulan ,yang baru dilahirkan menangis kencang, hanya bisa nangis dan minum susu sekarang sudah bisa jalan dan mulai akan sekolah.
Waktu berjalan sangat cepat sesuai dengan aktivitas manusia di dunia ini yang serba cepat dan praktis.
I Love u, my lovely daughter.
Mama and Papa Love Lindsay.
Berasa sekali ngak ada pembantu kemarin ini.
Gue rasa bukan hanya gue aja nich yang merasakan ditinggal pembantu mudik dan yang parahnya tidak balik lagi.
Kebayang donk bolak balik dan hebohnya nyari pembantu yang bisa buat ngasuh anak. Gue mau ambil Baby Sitter ,kayanya ngak afdol karena ada rencana mau resign dari kantor.
Soalnya Bs ngak mau pegang kerjaan rumah.
"Kenapa harus resign. Masa jagoan kantor KO karena pembantu?"
Itu pertanyaan salah satu best friend gue di kantor.
Hmm..
Ternyata setelah gue pikirkan jawabannya dan gue renungin.
Akhirnya gue dapet juga ilham dari pengalaman 2 hari sebelumnya.
Ceritanya hari ini, hari Rabu setelah ngubek-ngubek daerah Cempaka putih dsb dari siang ampe sore gue ketemu juga satu pembantu.
Tetapi tidak pengalaman jaga anak, hanya kerjaan rumah tanggak menurut yang gue lihat sich Ok lah. Not Bad!
Tapi..karena sudah hampir 2 minggu bersama anak gue yang super lucu dan menggemaskan.( ya iyalah.namanya juga anak sendiri..:P), yang namanya naluri ibu dan rasa kuatir itu muncul.
Bagaimana nanti dia makan, dia tidur ,dia main.
Sedangkan pembantu gue kayanya masih kurang bisa gue percaya.
Percaya ngak percaya tadi waktu dia mau tidur malam, gue sempet nangis dan anak gue sepertinya merasakan kekuatiran gue.
Mau tidur aja dia gelisah bolak-balik kesana sini dulu.
Akhirnya gue tenangin diri dan berusaha 'galak' biar dia bisa tidur soalnya udah mulai bersin-bersin anak gue karena kurang tidur di siang harinya.
Gue jadi inget ketika gue belum menikah dulu.
Gue selalu ingin kerja dan menganggap walau punya anak ,tetap saja harus kerja karena gue pengen seperti orang lain.
Calon suami gue yang sekarang jadi bapaknya anak gue ngotot tidak boleh dan akhirnya gue stopin aja pembicaraan yang menurut gue konyol waktu itu.
Masa jaman emansipasi gini istri harus di dapur melulu. Buat apa nyokap sekolahin gue ampe jadi sarjana kalo cuma masak di dapur aja?
Itu pemikiran mungkin 4 tahun yang lalu.
Setahun kemudian, pemikiran masih sama.
Pemikiran mulai berubah ketika lahirlah anak walau tidak drastis karena masih butuh banyak banget biaya untuk keperluan macam-macam.
Setelah anak 1 tahun, berubah lagi 50%. Setelah anak umur 2 tahun, pemikiran berubah 85%.
Setelah pembantu ngak balik karena kawin alasannya, pemikiran berubah 95%.
Berubah bahwa ternyata gue lebih baik di rumah jaga anak dan mendidik anak lebih baik.
Busyet dah....
Pilihan yang sangat sulit sebenarnya buat gue meninggalkan kantor dan teman-teman yang begitu gue sayangi. Apalagi di kantor gue termasuk salah satu dari sekian banyak ' pembuat keributan'. :D
Bos-bos yang kadang menjengkelkan,dan kadang juga menyenangkan. Apalagi gue kerja bukan hanya baru 1 atau 2 tahun.
Gue bekerja cukup lama untuk seumuran gue . Udah hampir 8 tahun. Gue pertama kali kerja part time di kantor konsultan Juli 2000.
Dan yang menarik dari pekerjaan ini adalah gue mendapatkan pekerjaan dengan cara 'door to door' menawarkan diri gue hanya dengan modal ijazah SMA dan omongan sekarang lagi kuliah semester 3 di salah satu universitas di Jakarta.
Setiap kantor di jl. Bandengan gue masukin dan diterima langsung di kantor ke-4 dan gue sempet kerja selama 4 tahun.
Bos gue baik banget dan sangat pengertian.
Sekarang umur gue 26 tahun berarti dari umur 18 tahun sudah kerja. Disaat orang lain menikmati indahnya kuliah dan bergaul, gue sudah punya banyak kesibukan.
Bagi gue sangat sulit meninggalakn kantor. Tetapi Hidup adalah pilihan bukan.
Gue inget kata-kata temen gue namanya Tasmika. Begini nich katanya
" Mana mungkin dia bisa diam. Lihat aja setiap hari dia sibuk melulu. Mana mungkin dia betah di rumah ngak apa-apain." he he he
Sekarang ini, gue pikir gue harus mulai memegang anak gue dan merawat anak gue.
Untuk masalah mencari uang, biarlah urusan suami aja dech.
Ngak munafiklah,pasti gue akan kehilangan pemasukan yang lumayan buat gue sendiri.
Apalagi apa-apa sekrang mahal buanget..........
Tapi, biarlah suami jadi lebih bertanggung jawab dan lebih termotivasi mencari nafkah karena istrinya sudah tidak bekerja. He He He. Cia yo,Papa.
Selama 2 tahun ini gue kehilangan moment selama anak gue mulai bisa sesuatu.Ketika anak gue pertama kali merangkak, duduk,bicara dengan bahasa planetnya. Yang lebih tahu adalah pengasuhnya , bukan orang tuanya.
Yach.. itu lah konsekuensinya bukan sebagai ibu dan wanita karir ?? :P
Gue punya inisiatif sendiri untuk berhenti kerja karena pada dasarnya gue ingin mendidik anak gue sendiri sesuai dengan 'gaya 'gue.
Gue pernah ingin menitip ke mama gue,tapi setelah gue lihat kok beda yach polah asuhnya. Bukan sok hebat nich gue, tapi yah namanya anak sendiri, kita pengen mendidik agar bisa menjadi yang 'terbaik'.
Anak gue lucu sekali dan mulai bisa mengenal huruf. Gerakannya lincah setiap hari dan ada aja kelakuannya yang menggemaskan.
Mulai dari ngambek, dari nyanyi dengan lirik yang diciptakan sendiri, pura-pura jadi guru.
Wuah..membayangkannya aja males banget jadinya masuk kerja lagi. Kalo bisa pengen resign aja sekarang juga dech. Biar hati tidak kuatir lagi mengenai apa yang akan terjadi jika gue ngak ada di rumah.
Kalo ada lagu dengan lirik 'kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. '
Gue setuju habis. Setelah jadi orang tua khusunya menjadi ibu, sangat mengena sekali syair lagu tersebut.
Ngak terhitung banyak air mata yang keluar untuk anak kita.
Waktu dia sakit, kejepit tangannya, tidur, bisa jalan, bisa manggil mama dan papa dan ketika menjadi penghibur kalo kita susah.
Tahu-tahu anak yang kita kandung selama 9 bulan ,yang baru dilahirkan menangis kencang, hanya bisa nangis dan minum susu sekarang sudah bisa jalan dan mulai akan sekolah.
Waktu berjalan sangat cepat sesuai dengan aktivitas manusia di dunia ini yang serba cepat dan praktis.
I Love u, my lovely daughter.
Mama and Papa Love Lindsay.
2 komentar:
Shi Sang Chi You Mama Hau ....
Di dunia ini hanya ibu seorang yang baik ....
Di dunia ini banyak orang yang baik kok. Hanya ibu yang lebih memikirkan anaknya lebih dibandingkan orang lain.
Posting Komentar